Kaltengtoday.com, Palangka Raya — Anggota Komisi I DPRD Kalimantan Tengah, Dapil IV, Purdiono menyampaikan hingga saat ini layanan dasar di sejumlah wilayah Barito Selatan masih minim dan butuh perhatian.
Ia mengungkapkan, telah menemukan bahwa masih terdapat desa yang belum menikmati listrik 24 jam, akses telekomunikasi tidak stabil, dan infrastruktur jalan yang tertinggal meski daerah tersebut merupakan penghasil Sumber Daya Alam (SDA).
Baca Juga : Pemprov Kalteng Tegaskan Peran Strategis TKPSDA
“Beberapa desa seperti Ranggailung, Mengkatip, dan Baru Selatan hingga kini hanya merasakan listrik pada malam hari. Belum bisa menikmati listrik 24 jam, itu ironis dibandingkan dengan perputaran SDA, tapi masyarakat masih belum bisa menikmati listrik satu kali 24 jam,” katanya, Kamis (27/11/2025).
Pihaknya menjelaskan, kondisi tersebut sangat tidak sebanding dengan besarnya aktivitas ekonomi dari sektor SDA di wilayah tersebut. Sebab, padamnya listrik berdampak langsung pada jaringan telekomunikasi.
“Kalau listriknya mati, dari mana jaringan telekomunikasi bisa berjalan? Semuanya bergantung pada listrik,” ucapnya.
Ia membeberkan, kondisi ini tidak hanya mempengaruhi komunikasi masyarakat, tetapi juga aktivitas layanan publik, sekolah, hingga darurat medis.
Dan, pihaknya mengkritisi aktivitas tongkang pengangkut SDA yang lalu-lalang melalui sungai Barito, akan tetapi tidak diimbangi peningkatan pendapatan daerah.
“Kita punya sumber daya alam yang diekspor, dan hasil ekspor itu semestinya ada yang dikembalikan ke daerah lagi. Tapi kita hanya menjadi penonton,” ucapnya.
Disebutkannya, ketidaksesuaian antara potensi SDA dan kesejahteraan masyarakat sebagai kondisi yang “tidak linier dengan variabel kesejahteraan”.
Terkait dengan akses transportasi juga menjadi masalah serius. Purdiono mengibaratkan di Kelurahan Bangkuang yang hingga kini tidak memiliki jalan tembus dan harus memutar lewat Bartim.
Baca Juga : Faperta UPR Gelar Seminar Nasional Pengelolaan SDA 2025 dan Lomba Kreatif Mahasiswa
Kemudian, desa-desa seperti Teluk Betung, Jenamas, dan Ranggailung bahkan tidak memiliki akses darat sama sekali dan sepenuhnya bergantung pada jalur sungai.
“Ironis sekali, daerah penghasil SDA tapi tidak memiliki infrastruktur dasar. Kita berharap kerangka-kerangka jalan itu, termasuk jembatan yang masih belum selesai, bisa diselesaikan sehingga masyarakat dapat menikmati manfaatnya,” tutupnya. [Red]














Discussion about this post