Kaltengtoday.com, Sampit – Keributan pecah di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu siang, 6 Mei 2026. Suasana di area pengisian solar subsidi mendadak ricuh. Sejumlah pria terlibat cekcok, saling dorong, hingga nyaris baku hantam di tengah antrean kendaraan.
Peristiwa itu terekam video warga dan cepat menyebar di media sosial. Dalam rekaman berdurasi sekitar satu menit, tampak beberapa orang berteriak sambil mencoba melerai keributan yang terjadi di dekat jalur pengisian bahan bakar.
Baca Juga : Polisi Periksa SPBU Di Jalan Tjilik Riwut
“Kalau mau berkelahi jangan di sini,” terdengar suara seorang perekam video di tengah situasi yang memanas.
Keributan diduga dipicu persoalan pembagian solar subsidi. Sejumlah sumber di lapangan menyebut sebagian orang yang berada di lokasi merupakan pelangsir BBM yang biasa melakukan pengisian berulang menggunakan kendaraan tertentu. Perselisihan disebut bermula dari antrean pengisian yang dinilai tidak tertib.
Adu mulut yang semula terjadi di dekat dispenser BBM kemudian berubah menjadi aksi saling dorong. Dalam bagian lain video, seorang pria berbaju singlet hitam terdengar melontarkan ucapan bernada menantang kepada orang di sekitarnya.
Insiden itu kembali menyoroti persoalan klasik distribusi BBM subsidi di wilayah pesisir Kotawaringin Timur. Praktik pelangsiran disebut masih marak dan kerap memicu antrean panjang di sejumlah SPBU. Warga mengeluhkan sulitnya memperoleh solar subsidi karena kendaraan tertentu diduga berulang kali mengisi bahan bakar dalam jumlah besar.
Anggota DPRD Kotawaringin Timur dari daerah pemilihan III, Edi Masami, menilai keributan di ruang publik semacam itu tidak bisa dianggap sepele. Menurut dia, ketegangan yang tampak dalam video mencerminkan adanya tekanan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.
Baca Juga : Petugas SPBU Dibekali Pelatihan Cegah dan Simulasi Penanggulangan Kebakaran
“Kalau tidak segera dilerai, situasi seperti ini bisa memicu konflik yang lebih luas. Ini menunjukkan adanya kejenuhan dan tekanan di tengah masyarakat yang perlu segera diantisipasi,” kata Edi, melalui pesan whatshapp.
Ia menyebut persoalan antrean BBM subsidi belakangan memang menjadi isu sensitif di lapangan. Selain menyangkut distribusi solar, kondisi ekonomi masyarakat dan tingginya kebutuhan operasional kendaraan angkutan ikut memperbesar potensi gesekan antarwarga.














Discussion about this post