Ada Apa di Balik Rambut Kusut?
Nah, ini yang membuat topik depression hair jadi lebih dari sekadar tren. Banyak yang bilang, rambut acak-acakan ini sebenarnya merefleksikan kondisi mental: capek, burnout, jenuh. Tapi alih-alih ditutupi, Prada justru menampilkannya ke publik sebagai bentuk ekspresi diri.
Psikolog mode Dr. Carolyn Mair bilang ke The Guardian, tren kayak gini bisa jadi semacam bentuk solidaritas. Buat sebagian orang, ngelihat rambut kusut di runway bisa jadi validasi tersendiri. “Rasanya kayak, ‘oke, gue nggak sendirian,’” ujarnya.
Tapi ingat! Jangan sampai kita romantisasi depresi. Ada batas antara estetika dan realitas.
Baca Juga : Drakor The Trauma Code: Heroes on Call Viral dan Jadi Trending Topik, Ini Alasannya
Jadi, apakah depression hair bakal jadi tren rambut baru di 2025? Most likely, yes! Tapi bukan karena orang pengen pura-pura depresi. Lebih ke arah self-expression: tampil apa adanya, tanpa tekanan buat selalu “sempurna.”
Balik lagi ke perspektif. Tren fashion itu soal interpretasi. Bisa jadi bentuk protes, bisa juga jadi cermin kondisi sosial. Yang jelas, tren ini berhasil bikin kita mikir dua kali soal standar kecantikan dan ekspresi diri.[Red]














Discussion about this post