Keterlibatan ini kemudian membawa perubahan pada siswa. Anak-anak yang sebelumnya cenderung pasif mulai menunjukkan kepercayaan diri yang lebih tinggi, berani mencoba, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Awalnya saya sempat takut kalau harus maju dan menjelaskan di depan orang lain. Tapi setelah sering mencoba, sekarang jadi lebih berani. Bahkan saya senang kalau diminta menjelaskan proses pembuatan bawang dayak ke orang lain,” ujar Nafisa, salah satu siswa SDN 4 Ketapang.
Baca Juga : Wagub Kalteng Ajak Badan Publik Berinovasi
Seiring perkembangannya, dukungan terhadap inovasi ini terus menguat. Bahkan, sekolah lain, komunitas pendidikan, hingga perwakilan pemerintah daerah datang langsung untuk melihat dan mempelajari pendekatan pembelajaran yang diterapkan. Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Perdagangan setempat dalam memastikan aspek kualitas, keamanan, dan pengembangan produk.
Kolaborasi dengan Puskesmas juga dilakukan untuk mendorong pemanfaatan tanaman herbal di masyarakat, sementara Bank Kalteng mendukung melalui fasilitas ruang produksi dan galeri penjualan, sehingga siswa juga juga memahami distribusi serta cara berinteraksi dengan konsumen.
“Awalnya kami hanya ingin anak-anak bisa membuat sesuatu yang bermanfaat. Tapi ternyata berkembang lebih jauh dan kini sering dipesan untuk kebutuhan acara di tingkat pemerintah daerah. Sekarang bukan hanya siswa yang belajar, tetapi masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya. Ada yang datang untuk membeli, ada yang meminta bibit, bahkan sekolah lain datang untuk belajar. Dari situ kami melihat bahwa ketika pembelajaran dilakukan dari hal yang dekat dengan mereka, dampaknya bisa meluas,” jelas Asykuriah.














Discussion about this post