Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Beberapa gelas atau cup plastik, juga kantong plastik, terlihat mengapung di sekitaran perairan Danau Dayu, Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur, Meski masih tak seberapa banyak, namun beberapa sampah, terutama plastik, di lokasi wisata tersebut, memang terasa mengganggu visual pengunjung.
Demikian pula dengan bak sampah di lokasi, masih terlihat sangat kurang. Sehingga saat hujan, samapah tak bisa dibakar, akan menumpuk dan berserakan. Sangat disayangkan jadi sesuatu yang mengganggu, sementara obyek wisata ini tengah gencar dipromosikan.
Baca Juga : Sejumlah Regulasi Baru Tuntut Perubahan Dalam Tata Kelola Sampah
“Apalagi dekat lokasi bermain anak, perlu juga disediakan. Anak-anak kan biasanya habis bermain, haus, minum es atau lainnya. Nah, seharusnya disediakan tempat sampah sebagai pembuangan plastik itu,” ujar Yati, seorang pengunjung di lokasi.
Ketika disampaikan hal ini ke Kepala Desa Dayu, Erto, tadi (Selasa, 11/10/2025), dirinya mengaku terbuka pada segala kritikan dan masukan. “Terima kasih atas masukannya, dan ini akan menjadi perhatian kami,” ujarnya. Dan pada acara penutupan Festival Danau Dayu, kemarin (Senin, 10/10/2025), dirinya juga mengatakan bahwa jika selama penyelenggaraan festival masih ada kekurangan, maka dirinya sebagai kepala desa, menanggung hal tersebut.
Baca Juga : Wali Kota Tinjau TPST Panarung Pastikan Pengelolaan Sampah Optimal
“Ya masalah sampah di obyek wisata, biasanya disebabkan karena banyaknya pengunjung. Selain itu, kesadaran orang Indonesia pada kebersihan memang masih harus kita akui lemah. Mungkin nanti Pemdes Dayu bisa menyediakan tempat lagi, dibantu dinas terkait. Selain itu juga perlu ada aturan tegas. Misalnya buang sampah sembarangan, kena denda mahal,” komentar Niko, warga asal Bartim yang kini mengaku bertugas di Kabupaten Barito Utara, yang bertemu di acara penutupan kemarin.
Niko melanjutkan, sayang kalau hal ini dibiarkan terus. “Kita khawatirkan ini akan menurunkan daya tarik wisata, dan yang jelas dapat mengancam lingkungan, serta ekosistem di sekitar,” imbuh pria yang sudah lima tahun bekerja menjadi karyawan tambang di Barut itu. [Red]














Discussion about this post