Kaltengtoday.com, Sampit – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai menimbulkan efek berantai di sektor riil di wilayah.
Salah satu yang paling terasa adalah melonjaknya harga material bangunan, terutama pasir dan tanah urug, yang menjadi komponen vital dalam aktivitas konstruksi masyarakat.
Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pelaku jasa angkutan dan distribusi material, harga pasir Bangkal kini menembus kisaran Rp1,55 juta per rit, sementara balen Bangkal berada di angka sekitar Rp1,3 juta. Adapun tanah kuning naik ke Rp700 ribu, tanah granit Rp650 ribu, dan pasir Sampit mencapai Rp1,2 juta per rit.
Baca Juga : Pemkab Bartim Cek Harga BBM Langsung ke Lapangan
Kenaikan ini disebut bukan semata karena faktor permintaan, melainkan lebih dipicu oleh membengkaknya biaya operasional, khususnya bahan bakar.
Para sopir dan pelaku distribusi mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan tarif agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya.
“BBM naik, otomatis ongkos jalan ikut naik. Kalau tidak disesuaikan, kami rugi di lapangan,” ujar Agus salah satu pengemudi angkutan material di Sampit, Selasa (21/4/2026).
Dampaknya mulai dirasakan oleh masyarakat, terutama pelaku usaha kecil di sektor konstruksi dan warga yang tengah membangun rumah.
Biaya pembangunan yang sebelumnya sudah tinggi kini semakin membebani, bahkan berpotensi menunda sejumlah proyek skala kecil.
Fenomena ini memperlihatkan betapa sensitifnya ekonomi daerah terhadap fluktuasi harga energi. Ketergantungan pada distribusi darat dengan biaya logistik tinggi menjadikan wilayah seperti Kotawaringin Timur rentan terhadap efek domino dari kebijakan harga BBM.
Baca Juga : Jaga Inflasi Daerah, Pemprov Kalteng Intensifkan Pengawasan BBM dan LPG
Di sisi lain, belum terlihat adanya intervensi konkret dari pemerintah daerah untuk meredam dampak tersebut, baik melalui pengendalian harga maupun subsidi distribusi material. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin sektor konstruksi lokal akan mengalami perlambatan.
Kenaikan harga material ini menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi di daerah tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika BBM naik, bukan hanya transportasi yang terdampak—melainkan seluruh rantai ekonomi ikut terguncang. [Red]














Discussion about this post