Bukan pula semata-mata tentang tarian bukung, gendang, garantung, baram, doa, atau berbagai tahapan adat yang diwariskan leluhur. Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu hal, seorang anak sedang menunaikan bakti terakhir kepada ibunya.
Warisan yang Masih Bernapas
Sore mulai turun di Sebabi, sandung tempat Surie beristirahat telah ditutup, namun bagi keluarga Sendi, perjalanan belum sepenuhnya berakhir.
Masih ada bagian-bagian ritual yang harus diselesaikan, masih ada warisan leluhur yang harus dijalankan dan disitulah adat tidak hanya menjadi cerita tentang masa lalu melainkan ia hidup di tengah keluarga yang sedang berduka.
Baca Juga : Keruk Dulu, Bayar Belakangan? Tambang Silika di Sebabi Dituding Langgar Kesepakatan Ganti Rugi
Ia pula hadir dalam suara gendang yang terus berdentang, dalam langkah penari bukung, dalam doa yang dipanjatkan, dalam tangan-tangan yang mengangkat raung, hingga perjalanan singkat menuju sandung.
Dan pada akhirnya, seluruh rangkaian itu membawa satu pesan yang sangat manusiawi, bahwa ketika seorang ibu berpulang, seorang anak ingin memastikan ia tidak pergi sendirian.
Surie telah ditempatkan di tempat peristirahatannya, tetapi keluarga Sendi masih harus menyelesaikan perjalanan terakhir mereka, Perjalanan untuk benar-benar melepaskan, Perjalanan untuk menunaikan bakti dan Perjalanan untuk mengantar sang ibu pulang. [Red]














Discussion about this post