“Memang seperti itu. Intinya, kami mencari dana terlebih dahulu. Dahulu, kadang-kadang prosesnya bahkan bisa lebih dari dua minggu,” katanya.
Baca Juga : Massa dan Sekuriti PT Agro Indomas Terlibat Saling Dorong di Sebabi, Status Hukum Lahan Diperdebatkan
Di balik ritual yang tampak begitu sakral, ada kenyataan kehidupan yang tidak bisa dilepaskan. Adat harus dijalankan, tetapi kebutuhan keluarga juga harus dipikirkan, keduanya berjalan beriringan.
“Mengantar Orang Tua”
Poniti, adik Sendi, ikut berdiri di antara keluarga yang menjalankan seluruh rangkaian ritual. Ada haru yang tertahan dalam suaranya, Ia hanya berharap semuanya berjalan lancar hingga akhir.
Bagi keluarga besar mereka, seluruh rangkaian itu memiliki satu tujuan.
“Tujuan kami satu, baik dari Bang Sendi maupun keluarga besar. Kami berdoa agar almarhum tenang dan kembali kepada Tuhan,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun ketika ditanya apa makna terbesar dari seluruh rangkaian panjang yang mereka jalankan, Sendi memberikan jawaban yang jauh lebih singkat.
“Mengantar orang tua.” Hanya tiga kata, tidak ada penjelasan panjang.
Ketika kembali ditanya apakah yang dimaksud adalah mengantar sang ibu menuju surga, Sendi mengiyakan pelan.
Barangkali memang sesederhana itu inti dari seluruh perjalanan panjang tersebut, bukan sekadar tentang raung, bukan hanya tentang sandung.














Discussion about this post