Kaltengtoday.com, Sampit – Suara gendang dan garantung sudah terdengar dari kejauhan, tabuhannya bersahutan, merambat di antara rumah-rumah warga Desa Sebabi Kecamatan Telawang Kabupaten Kotawaringin Timur. Semakin mendekat, suara itu semakin jelas. Bukan suara yang biasa terdengar dari sebuah rumah yang sedang berduka.
Sebagian duduk bercengkrama. Sebagian lainnya sibuk menyiapkan jamuan. Dua orang laki-laki memainkan alat musik di tengah kerumunan.
Di salah satu sudut dinding, empat bilah mandau tergantung diam sementara di sudut lainnya, sebuah raung—sebutan peti jenazah dalam tradisi Dayak Tamuan—terbaring menunggu waktunya dibawa pergi.
Baca Juga : Massa dan Sekuriti PT Agro Indomas Terlibat Saling Dorong di Sebabi, Status Hukum Lahan Diperdebatkan
Hari itu, keluarga Sendi tengah mengantarkan Surie, ibu mereka, menuju tempat peristirahatan terakhir.
Sendi tampak sibuk. Ia berjalan dari satu sudut rumah ke sudut lainnya, memastikan tamu terlayani. Sesekali ia berhenti, berbincang dengan warga yang datang.
Gelas-gelas berisi baram, minuman tradisional Dayak, beredar dari tangan ke tangan. Tidak pernah diisi penuh, setengah gelas pun nyaris tidak sampai, begitu diterima, baram langsung diteguk hingga tandas.
Sekilas, suasana itu seperti sebuah perjamuan. Namun di balik riuh percakapan dan musik yang dimainkan, ada satu kenyataan yang tak bisa diabaikan: di rumah itu, sebuah keluarga sedang melepas salah satu orang terpenting dalam hidup mereka.
Hari duka tidak selalu harus sunyi, bagi keluarga Sendi, denyut kehidupan justru tetap dijaga di sekitar jenazah sebelum perjalanan terakhir dimulai.
Ketika Bukung Datang Menjemput
Sekitar pukul 10.15 WIB, suasana berubah, perhatian warga beralih ke halaman rumah, empat orang penari muncul, tubuh mereka dibalut kostum bukung. Wajah masing-masing tertutup topeng kayu dengan bentuk dan karakter wajah topeng yang berbeda.
Musik bambu mengiringi langkah mereka selama sekitar 15 menit, para penari bergerak di halaman. Lenggak-lenggok tubuh mereka mengikuti irama yang dimainkan, lalu, satu per satu, mereka memasuki rumah.
Bagi orang yang baru pertama melihatnya, babukung mungkin tampak seperti sebuah pertunjukan, tetapi bagi masyarakat Dayak Tamuan, keberadaannya mempunyai makna yang lebih dalam.














Discussion about this post