Fenomena ini juga nggak cuma berakhir di dunia maya. Ada banyak komunitas baca yang lahir dari video TikTok, salah satunya adalah komunitas Torang Baca di Jayapura, yang dibentuk oleh kreator TikTok Syarif (@menceriakan).
Baca Juga : Unik dan Inspiratif, Para Ayah Muda di Brooklyn Kompak Asuh Bayi Lewat Komunitas Stroll Club
Syarif nggak cuma kasih rekomendasi buku, tapi juga bikin ruang aman buat anak muda yang mau berekspresi, ngobrol, dan saling support lewat buku. Baca buku jadi jembatan buat saling ngerti dan berbagi sudut pandang. Di tengah dunia yang makin ribut, ini jelas jadi angin segar.
Bukan cuma pembaca yang diuntungkan, tapi juga penulis dan penerbit. Sekarang mereka bisa promosi lewat konten kreatif, live session, atau kolaborasi bareng kreator. Bukunya bisa langsung masuk TikTok Shop, tinggal klik, beli, baca. Gampang dan cepat, kayak pesan kopi di aplikasi.
Salah satu contoh sukses lainnya adalah festival buku keliling Patjarmerah, yang sekarang juga aktif banget di TikTok. Nggak cuma jual buku, mereka juga bikin diskusi, pameran seni, sampai kelas kreatif. Intinya, bikin literasi itu hidup dan seru, nggak kaku.
Windy Ariestanty, salah satu pendiri Patjarmerah, bilang bahwa kolaborasi adalah kunci. Dan TikTok, dengan segala dinamikanya, justru jadi alat efektif buat ngebangun ruang baca yang inklusif dan kekinian.
Baca Juga : Literasi Digital Harus Ditanamkan kepada Generasi Muda
Jadi, BookTok ini cuma tren? Nggak juga. Ini sudah menjadi jadi gaya hidup. Buat sebagian orang, nonton rekomendasi buku di TikTok udah kayak ritual harian. Dan lebih dari itu, BookTok mengajarkan kita bahwa baca buku bisa fun, bisa rame, dan bisa jadi bagian dari identitas digital kita.
Di era digital ini, ternyata buku nggak mati. Mereka cuma lagi rebranding. Dan BookTok adalah bukti nyata bahwa dengan pendekatan yang tepat, literasi bisa jadi viral.[Red]














Discussion about this post