Kaltengtoday.com, Sampit – Kenaikan harga material bangunan yang dipicu oleh lonjakan harga BBM kini mulai berdampak nyata di lapangan. Sejumlah proyek konstruksi skala kecil hingga menengah di wilayah dilaporkan mengalami perlambatan, bahkan penundaan.
Para tukang bangunan dan kontraktor lokal mengaku mulai kesulitan menyesuaikan anggaran dengan harga material yang terus bergerak naik dalam waktu singkat.
“Biasanya harga bisa ditahan beberapa bulan, sekarang hitungan minggu sudah berubah. Ini yang bikin kami susah ambil proyek borongan,” ujar Salim seorang tukang di kawasan Sampit.

Tidak hanya pelaku usaha, masyarakat umum juga mulai terdampak. Warga yang sebelumnya berencana membangun atau merenovasi rumah kini memilih menunda karena biaya yang membengkak.
Baca Juga : Dampak Kenaikan Harga BBM, Material Bangunan di Kotim Ikut Melonjak
Seorang warga mengaku anggaran awal pembangunan rumahnya naik signifikan hanya dalam waktu singkat. “Awalnya hitung Rp150 juta cukup, sekarang bisa tembus jauh lebih tinggi. Mau lanjut jadi ragu,” katanya.
Tekanan di Sektor Bawah
Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak kenaikan BBM tidak berhenti di sektor transportasi, melainkan merembet hingga ke sektor informal. Tukang harian, buruh bangunan, hingga penjual material skala kecil ikut merasakan penurunan aktivitas.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi penurunan serapan tenaga kerja di sektor konstruksi lokal—yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Kontraktor Mulai Selektif
Sejumlah kontraktor kini mulai lebih berhati-hati dalam mengambil proyek. Mereka cenderung memilih sistem harga mengikuti pasar (fluktuatif), bukan harga tetap, guna menghindari kerugian.
Baca Juga : Jaga Inflasi Daerah, Pemprov Kalteng Intensifkan Pengawasan BBM dan LPG
Namun di sisi lain, kondisi ini justru membuat konsumen semakin sulit mendapatkan kepastian biaya.
Minim Respons Kebijakan
Hingga saat ini, belum terlihat adanya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga material ini. Padahal, jika dibiarkan, efeknya bisa meluas ke sektor lain seperti properti, UMKM bahan bangunan, hingga daya beli masyarakat. [Red]














Discussion about this post