“Saya tidak punya tanah di lokasi itu. Semua itu milik masyarakat. Jadi saya juga bertanya, kenapa saya yang digugat?”
Ia tidak menutupi keberatannya. Menurutnya, gugatan terhadap dirinya justru berpotensi memperpanjang situasi yang telah lama berkembang di lapangan.
“Terus terang saya keberatan. Harapan saya gugatan itu dibatalkan kalau memang semua ingin damai.”
Dematius juga mengungkap bahwa sejauh ini dirinya telah mengikuti sejumlah pertemuan bersama pihak pemerintah daerah terkait persoalan tersebut.
Menurut keterangannya, dalam salah satu rapat bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, muncul pembahasan mengenai evaluasi terhadap situasi yang berkembang.
“Dalam rapat kemarin ada pembahasan agar persoalan kriminalisasi dan gugatan terhadap saya dievaluasi.”
Namun bagi Dematius, persoalan terbesar bukan semata gugatan hukum. Yang lebih ia khawatirkan adalah dampak sosial yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Baca Juga : Izin yang Datang Belakangan : Pertanyaan Parimus dan Jejak Panjang Konflik Sebabi
“Kalau begini terus, sama saja membiarkan bola panas liar. Sewaktu-waktu bisa membesar,”jelasnya.
Sebagai kepala desa yang telah menjabat selama tiga periode, Dematius mengaku mengetahui langsung bagaimana dinamika yang berkembang selama bertahun-tahun.
Ia menyebut bahwa dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan pihak perusahaan, dirinya berulang kali menyampaikan harapan masyarakat. Harapan mengenai ganti rugi. Harapan mengenai realisasi plasma.
Dan harapan agar masyarakat dapat ikut merasakan kesejahteraan dari aktivitas investasi yang berlangsung di wilayah mereka.
“Saya selalu sampaikan tolong realisasikan hak masyarakat. Tolong ganti rugi lahan masyarakat. Tolong plasma direalisasikan sesuai aturan pemerintah,” tegasnya.
Namun di tengah kritik yang disampaikannya, Dematius juga mengaku tidak menolak keberadaan investasi. Ia bahkan menyebut terdapat perusahaan-perusahaan lain di wilayah sekitar yang menurut penilaiannya memiliki hubungan lebih baik dengan masyarakat.














Discussion about this post