Sebab dari sejumlah informasi awal yang telah dihimpun sebelumnya, pihak lain juga memiliki pandangan berbeda mengenai rangkaian kejadian tersebut.
Dan disinilah pertanyaan besar mulai muncul :
– Apakah yang terjadi saat itu merupakan kesalahpahaman?
– Perselisihan di lapangan?
– Atau bagian dari konflik yang sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum hari kejadian?
Tim investigasi kemudian menyadari satu hal untuk memahami peristiwa ini secara utuh, keterangan Petrus tidak dapat berdiri sendiri.
Cerita itu harus dipertemukan dengan orang-orang lain yang mengaku hadir di lokasi pada hari yang sama. Termasuk tokoh adat, kepala desa, masyarakat, dan pihak-pihak lain yang disebut berada di tempat kejadian.
Karena di titik yang sama, satu peristiwa ternyata melahirkan banyak versi. Dan tugas investigasi bukan memilih versi mana yang paling keras terdengar.
Melainkan menyusun seluruh potongan agar pembaca dapat melihat gambaran yang lebih utuh.
Kemudian Tim Investigasi media online, berkesempatan bertemu dengan salah satu tokoh atau tetua kampung desa sebabi yang mengaku berada di lokasi kejadian peristiwa saat Petrus Limbas dituduh melakukan aksi penganiayaan terhadap salah satu karyawan PT. BAP.
Basuni DS, mengaku berada di lokasi kejadian peristiwa kala itu ia bersama kepala desa, damang, dan sejumlah tokoh pemuda lainnya berada di pondok perjuangan masyarakat desa sebabi menunggu kedatangan pihak polres kotim dengan harapan adanya mediasi lanjutan.
Namun selang beberapa waktu kemudian ada ratusan aparat keamanan/security dan karyawan dari pihak perusahaan PT.BAP dikawal oleh aparat bersenjata melakukan kegiatan panen diatas lahan yang menjadi objek sengketa yang lokasinya tidak jauh dari pondok perjuangan masyarakat desa sebabi.
“Waktu kejadian saya berkumpul di lokasi pondok perjuangan masyarakat desa sebabi, tidak banyak hanya belasan puluhan sampai belasan orang karena kami tidak berencana melakukan kegiatan apapun selain berharap ada proses mediasi lanjutan karena beberapa hari sebelumnya memang sudah ada kesepakatan dengan pihak perusahaan untuk sama-sama tidak melakukan kegiatan apapun di atas objek lahan yang menjadi sengketa,” ungkap Basuni ketika diwawancarai tim investigasi.
Ia pun kembali menceritakan saat itu ia bersama damang dan kepala desa dan warga lainnya mendatangi pihak karyawan perusahaan yang tengah melakukan panen yang juga dikawal oleh pihak keamanan bersenjata.
“Lokasi yang tidak jauh dari pondok perjuangan hanya mungkin kurang lebih ratusan meter kami mendatangi mereka (pihak perusahaan) disana memang sempat terjadi cekcok dan perdebatan bahkan ada aksi mengokang senjata dari pihak aparat, disitu jujur saja saya sempat bersembunyi dibalik pohon sawit, karena jujur saya takut karena kalau sampai keributan meluas saya tidak ingin mati konyol, karena aparat bersenjata,”jelas Basuni.














Discussion about this post