Kaltengtoday.com, Sampit – Di Titik yang Sama, Versi Cerita Mulai Dipertemukan, matahari mulai meninggi ketika tim gabungan media melanjutkan penelusuran menuju lokasi yang disebut sejumlah warga sebagai titik awal peristiwa.
Jalan tanah yang membelah area perkebunan membawa tim semakin jauh masuk ke kawasan yang selama beberapa bulan terakhir menjadi pusat perhatian publik.
Di tempat inilah, menurut berbagai keterangan yang telah dihimpun, rangkaian peristiwa yang menyeret nama Petrus Limbas disebut bermula.
Baca Juga : BAB. I – INVESTIGASI KHUSUS | MENELUSURI JEJAK AWAL PERKARA PETRUS LIMBAS
Namun bagi tim investigasi, mendengar cerita dari luar lokasi saja belum cukup. Sebab satu prinsip sederhana dalam kerja lapangan selalu dipegang tempat sering kali menyimpan detail yang tak tertulis dalam berkas.
Dan hari itu, tepat di lokasi yang menjadi objek sengketa, dan objek bermula kejadian peristiwa yang menyeret nama Petrus Limbas hingga menyandang status tersangka, tim akhirnya mendapat kesempatan mendengar langsung keterangan dari Petrus Limbas.
Berdiri di area yang kini menjadi pusat sengketa, Petrus mulai menunjuk sejumlah titik. Sesekali ia berhenti. Memandang sekeliling. Lalu mencoba mengingat kembali urutan peristiwa yang menurut pengakuannya terjadi saat itu.
Menurut keterangan yang disampaikan kepada tim investigasi, hari kejadian itu tidak dimulai dengan situasi yang ia gambarkan sebagai keributan.
Ia menyebut saat itu terdapat sejumlah warga, tokoh masyarakat, kepala desa, unsur adat, dan beberapa pihak lain yang datang ke lokasi karena mendengar ada informasi bahwa akan ada kedatangan tamu dari aparat kepolisian resor kotim.
“Kami bersama kepala desa, damang, dan sejumlah masyarakat berkumpul di pondok perjuangan masyarakat sebabi ini karena mendengar ada informasi bahwa akan ada kedatangan pihak kepolisian, sehingga kami menyambut baik dengan harapan dan bersangka baik akan ada mediasi lanjutan, karena di hari sebelumnya juga telah ada kesepakatan antara pihak perusahaan dan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di lapangan selama objek sengketa belum ada penyelesaian,” ungkap Petrus yang turut mendampingi tim investigasi media di lapangan.
Menurut versinya, keberadaan mereka ada sekitar 15-20 orang di pondok perjuangan masyarakat sebabi itu berkaitan dengan persoalan lahan yang saat itu tengah menjadi perhatian masyarakat.














Discussion about this post