Karena itu ia secara tegas meminta kepada hakim dipengadilan negeri sampit untuk menolak gugatan perdata yang dilayangkan oleh pihak perusahaan PT. BAP kepada tiga tokoh masyarakat desa sebabi.
“Kami ingin itu gugatan ditolak oleh pihak pengadilan dan dicabut oleh pihak perusahaan PT. BAP karena jujur saja jika bukan karena menuruti keinginan para tiga tokoh kami ini untuk tetap bersabar dan mematuhi proses yang sedang berjalan, kami warga mungkin sudah melakukan aksi,” tambahnya.
Sementara itu ditengah pengumpulan keterangan itu, nama Petrus Limbas mulai beberapa kali muncul dalam percakapan.
Sebagian menyebutnya saat membahas hari kejadian, sebagian lain mengaitkan dengan keberadaannya di lokasi ketika peristiwa berlangsung.
Namun tim investigasi memilih untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Sebab dari hasil penelusuran sementara, terdapat lebih dari satu versi cerita mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada hari itu.
Dan setiap pihak tampaknya memiliki urutan peristiwa masing-masing. Di sinilah tim mulai menyadari bahwa persoalan ini tidak hanya tentang siapa berada di lokasi.
Baca Juga : Antara Buka Puasa dan Konflik Lahan: Diplomasi Perusahaan di Tengah Bara Sebabi
Tetapi juga tentang bagaimana tiap orang mengingat kejadian yang sama secara berbeda. Maka langkah berikutnya menjadi penting.
Tim harus mendengar langsung dari mereka yang disebut hadir saat peristiwa berlangsung. Termasuk dari pihak yang namanya kini menjadi pusat perhatian Petrus Limbas sendiri.
Karena jika lokasi adalah titik awal sengketa, maka kesaksian orang yang berada di sana bisa menjadi pintu untuk memahami bagaimana semuanya bermula.[Red]
Bersambung —
BAB IV: Kesaksian Petrus Limbas di Lokasi Kejadian














Discussion about this post