Kaltengtoday.com, Sampit – Pagi di Desa Sebabi mulai hidup, aktivitas warga perlahan berjalan seperti biasa. Kendaraan sesekali melintas. Di beberapa sudut desa, masyarakat berkumpul, berbincang, sementara sebagian lainnya memulai rutinitas harian mereka.
Namun bagi tim gabungan media, hari itu bukan sekadar kunjungan biasa. Setelah melihat langsung titik lokasi yang disebut-sebut masyarakat sebagai pusat awal persoalan, langkah berikutnya adalah mendengar suara desa itu sendiri.
Sebab dalam banyak konflik agraria di berbagai daerah, persoalan sering kali tidak hanya hidup di atas peta, koordinat, dokumen, atau ruang sidang.
Baca Juga : BAB II — MENCARI TITIK NOL SENGKETA SEBABI
Ada arsip lain yang sering luput dicatat yaitu Ingatan masyarakat itu sendiri. Dan di desa-desa seperti Sebabi, ingatan kolektif kadang diwariskan jauh lebih lama dibanding selembar dokumen.
Tim investigasi kemudian mulai menemui sejumlah tokoh masyarakat, tetua desa, tokoh pemuda, tokoh adat, hingga warga yang mengaku mengikuti perkembangan persoalan sejak awal.
Seruan tokoh Masyarakat Desa Sebabi, mengaku mengetahui persis tentang riwayat penguasaan atas kepemilikan tanah yang menjadi objek sengketa antara masyarakat desa sebabi dan pihak perusahaan PT. Binasawit Abadi Pratama (BAP) Sinarmas Group.
“Dulu itu sebelum perusahaan sawit masuk diwilayah desa sebabi, ini adalah ladang tempat warga berladang mencari penghidupan jauh bahkan sebelum ada perusahaan sawit, sempat ada perusahaan kayu dan jalan tidak semulus ini dulu,”ungkap Seruan tokoh desa setempat ditemui tim investigasi media.
Sejumlah narasumber dalam liputan khusus ini secara khusus meminta keterangan belum seluruhnya disampaikan dalam laporan ini. Sebagian meminta keterangannya disampaikan secara bertahap sembari menunggu proses hukum berjalan.
Tetapi satu hal menarik muncul. Meski datang dari latar berbeda, beberapa keterangan yang dihimpun memiliki titik temu.
• Mereka berbicara tentang riwayat lahan.
• Tentang siapa yang lebih dahulu mengenal kawasan itu.
• Tentang aktivitas masyarakat di masa lalu.
Dan tentang perubahan besar yang terjadi ketika wilayah tersebut mulai masuk ke dalam pusaran kepentingan yang lebih besar.
Baca Juga : Ketika Peta Tak Pernah Dibuka : Gugatan Rp100 Miliar dan Pertanyaan yang Menggantung di Sebabi
Seruan nama seorang tokoh tetua desa yang ditemui tim investigasi mengaku mengikuti perjalanan persoalan itu sejak lama bahkan sejak awal sebelum keberadaan perusahaan sawit.














Discussion about this post