Kaltengtoday.com, Sampit – Perjalanan dimulai malam hari awak media menuju Desa Sebabi demi mengurai simpul konflik lahan yang menyeret tokoh adat, kepala desa hingga anggota DPRD ke ruang sidang.
Sampit 24 Mei 2026, malam itu, langit Kotawaringin Timur tampak berat. Jarum jam bergerak melewati tengah malam ketika satu kendaraan mulai meninggalkan Kota Sampit. Di dalamnya bukan aparat, bukan pula rombongan demonstran.
Mereka adalah gabungan sejumlah awak media dari Kalteng yaitu KaltengToday, Kanalindependen, KaltengBersuara dan TintaBorneo.Tujuan mereka satu yaitu Desa Sebabi, Kecamatan Telawang. Perjalanan itu bukan perjalanan biasa.
Baca Juga :Â RJ Kembali Batal, Petrus Limbas Tetap Datang Sejak Pagi ke Mapolres Kotim: Saya Ingin Masalah Ini Selesai Baik-Baik
Selama beberapa bulan terakhir, perhatian publik Kalimantan Tengah tersedot pada satu konflik yang terus bergulir sengketa lahan yang menyeret nama Petrus Limbas, Kepala Desa Dematius, Damang Kepala Adat Yustinus Saling Kupang, hingga anggota DPRD Parimus.
Persoalan itu bahkan bermuara sampai kepada pada gugatan bernilai fantastis Rp100 miliar di Pengadilan Negeri Sampit.
Namun di balik dokumen gugatan, pemberitaan, ruang sidang, dan perdebatan hukum yang muncul dipublik, muncul satu pertanyaan yang belum terjawab.
Bagaimana sesungguhnya perkara ini bermula?
Apa yang sebenarnya terjadi di lokasi saat peristiwa yang menyeret nama Petrus Limbas terjadi?
Apakah narasi yang beredar selama ini sama dengan cerita yang hidup di tengah masyarakat Sebabi?
Baca Juga :Â Tokoh Pemuda Sebabi Minta Polres Kotim Kedepankan Dialog : Kasus Petrus Limbas Dinilai Tak Lepas dari Konflik Lahan
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa tim gabungan media memutuskan turun langsung ke lokasi.
Bukan hanya melihat objek lahan yang disengketakan, tetapi mendengar sendiri suara para tetua desa, tokoh pemuda, tokoh adat, kepala desa, dan orang-orang yang mengaku berada tepat di lokasi ketika peristiwa itu terjadi. [Red]
Bersambung ——
BAB II — MENCARI TITIK NOL SENGKETA














Discussion about this post