Kaltengtoday.com, Sampit – Kegelisahan para atlet di Kotawaringin Timur akhirnya pecah ke ruang publik. Ketidakjelasan pendaftaran dan keikutsertaan dalam ajang Porprov kini tidak lagi menjadi bisik-bisik di arena latihan, melainkan sudah berubah menjadi kekhawatiran nyata bahkan berujung pada keputusan drastis.
Sejumlah atlet dilaporkan mulai memilih bergabung dengan kabupaten lain, sebuah langkah yang mereka ambil bukan tanpa alasan, melainkan karena tidak adanya kepastian dari pihak terkait.
Situasi ini mendorong sejumlah Organisasi Kepemudaan (OKP) untuk turun langsung. Mereka mendatangi KONI Kotawaringin Timur, bukan untuk memperkeruh keadaan, tetapi untuk mencari jawaban sekaligus menyuarakan keresahan para atlet.
“Kami menerima banyak keluhan. Atlet bertanya, apakah mereka masih akan bertanding atau tidak. Ini bukan soal biasa, ini soal masa depan mereka,” ujar Muhammad Ridho Ketua Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM), Kamis 2 April 2026.
Adapun sejumlah perwakilan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang turut menyambangi Sekertariat KONI Kotim, diantaranya Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma-PP), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STiE), Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM).
Ketidakpastian yang Berujung Eksodus Atlet
Fakta bahwa atlet mulai hengkang menjadi pukulan telak bagi dunia olahraga di Kotim. Bagi OKP, ini bukan sekadar perpindahan individu, tetapi sinyal serius bahwa sistem sedang tidak baik-baik saja.
“Ada atlet yang terpaksa memilih daerah lain. Ini bukan karena mereka tidak cinta Kotim, tapi karena mereka butuh kepastian,” tegasnya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Kotawaringin Timur bukan hanya berisiko kehilangan atlet potensial, tetapi juga kehilangan peluang mempertahankan prestasi.
Marwah Juara Umum di Ujung Tanduk
Sebagai daerah yang menyandang status juara umum, posisi Kotim kini berada dalam tekanan. Keterlambatan administratif yang tak kunjung jelas dinilai bisa berdampak langsung pada keikutsertaan dalam Porprov.
OKP menilai, jika tidak segera diselesaikan, persoalan ini bisa menjatuhkan marwah daerah di level provinsi.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya keikutsertaan, tapi harga diri daerah. Jangan sampai Kotim dikenal bukan karena prestasinya, tapi karena gagal mengelola atletnya sendiri,” lanjutnya.














Discussion about this post