Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Gerakan bercocok tanam menciptakan ketahanan pangan sejak beberapa tahun lalu, dinilai menjadi program yang tepat di saat krisis seperti sekarang. Setidaknya, tidak semua kebutuhan pangan harus dibeli, karena masyarakat mempunyai tanaman yang mampu dijadikan stok pangan.
Sementara harga beberapa kebutuhan di pasar melambung, tanaman-tanaman hortikultura yang ditanam masyarakat seperti cabai, ubi, terong dan lain-lain, dirasa turut meringankan beban pengeluaran.
Kebutuhan pasar yang tetap tinggi, turut menjadikan hal ini sebagai peluang usaha. Tanaman-tanaman yang menghasilkan dan dinilai lebih dari cukup untuk kebutuhan sendiri, bisa dijual ke pasar, menjadikan sebagai income tambahan yang menguntungkan.
Baca Juga : Teras Narang Soroti Dampak Geopolitik terhadap Ketahanan Energi dan Ekonomi Daerah
“Dari tanaman liar seperti umbi-umbian pahit atau yang di sini kita sebut ” Umbut” pun ternyata laku di pasar. Kami jual seikat sebanyak tiga atau empat batang, laku dijual seharga Rp10. 000. Cukup laku di pasar, ” ujar Ny Sumiatun, salah seorang ibu rumah tangga dari Ampah, Kecamatan Dusun Tengah, tadi (Rabu, 29/4/2026).
Tak hanya dari jenis sayur-sayuran, buah-buahan hutan seperti kapul pun masih menjadi buruan pembeli di pasar.
“Intinya, peluang usaha di daerah masih terbuka lebar , dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Tinggal bagaimana kreatifitas kita mengolah dan menyajikannya, ” timpal Hasan, seorang pembeli barang dari petani. [Red]














Discussion about this post