Kaltengtoday.com, Entertainment – Tak bisa dipungkiri, pemutaran film Kuyank Saranjana (2026) katya sutradara asal Kalimantan Selatan Johansyah Jumberan, beberapa hari di Duta Mall Cinema XXI Palangka Raya yang nyaris tak pernah sepi penonton, menjadi salah satu barometer awam bahwa film tersebut meraih kesuksesan besar. Dan dari informasi di banyak media sosial, pemutarannya di luar Kalimantan Tengah dan Selatan, termasuk di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Lampung, dan Jakarta, direspon luar biasa oleh penonton.
Baca Juga : Film Pendek Indonesia Anak Macan Raih Best International Short Film, Resmi Lolos Kualifikasi Oscar
Keberhasilan film ini, mengalahkan film sebelumnya, Saranjana Kota Gaib (2024), yang juga disutradarai Johansyah Jumberan. Para pengamat menyebut, pengggarapan CGI di film ini lebih smooth, khususnya dalam menampilkan sosok urban legend kuyang.
Kuyank (dengan huruf “k” di belakang, sebagai pembeda dari film lain yang mengambil tema sama) Saranjana sendiri adalah prekuel dari film Saranjana Kota Gaib. Dan memang, pihak produksi membuat rangkaian dalam satu universe Saranjana.
Jika di film sebelumnya diceritakan perjalanan mencari Mandau sakti ke pelosok Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, di mana senjata yang menjadi kunci pembuka portal ke Saranjana itu adalah milik Utuh Ampong, orang ‘pintar’ keturunan Suku Dayak (yang sayangnya mereka terlambat karena yang bersangkutan baru saja wafat), di Kuyank Saranjana lebih disorot bagaimana Utuh Ampong (Barry Prima) terutama adik iparnya, Rusmiati alias Irus (Putri Intan Kasela) yang dalam film Saranjana Kota Gaib muncul sekilas, bisa menjadi kuyang.
Mungkin, belajar dari film pertama yang masih belum mengeksplor banyak hal, di film ini, karakter para tokoh lebih dikembangkan. Satu dengan yang lain memiliki pertalian erat. Unsur drama dibumbui sedikit komedi, menjadi terasa kuat dalam film yang 85%-90% menggunakan Bahasa Banjar ini. Adapun genre horror rasanya lebih merupakan pengkategorian saja. Karena suspense maupun shocking scared nya pun juga tidak menjadi bumbu utama.
Sukses yang lain, adalah keberhasilan mengangkat budaya, tradisi sosial, serta kepariwisataan, baik Banjarmasin sebagai ikon di Provinsi Kalimantan Selatan, juga di Nagara, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Khususnya bagaimana pemandangan perkampungan, rawa-rawa, kehidupan masyarakatnya, serta kultur yang mengakar. Dan seperti ‘kemubaziran besar’ jika Pemprov Kalsel maupun Pemkab HSS tidak ikut andil dalam budgeting produksi film ini.
Baca Juga : Heboh! Lisa BLACKPINK Syuting Film Netflix di Jakarta Kota hingga Tangerang
Sampailah pada pertanyaan, kapan (lagi) Kalimantan Tengah bisa juga terekspos di tangan serta formula film yang tepat? Tentu ini bukan sesuatu yang harus buru-buru dijawab.
Sebab yang meracik hingga ke tahap penyajian, harus orang yang benar-benar credible serta memiliki jaringan market yang luas, agar film tak sekadar jadi dan ditonton. Ada hitungan bisnis yang juga tak boleh diabaikan. [Red]














Discussion about this post