Pernyataan itu tampak sederhana, tetapi menyimpan pesan yang cukup penting ketika informasi berkembang dari video dan potongan narasi yang saling bersahutan, verifikasi lapangan tetap menjadi cara paling mendasar untuk melihat persoalan secara utuh.
Baca Juga :Â Diduga Berebut Solar Subsidi, Keributan Pecah di SPBU Samuda
Di titik inilah persoalannya tampak bergeser bukan semata soal antrean, tetapi soal persepsi yang terbentuk dalam situasi mendesak.
Seorang pengemudi ambulans yang berada di bawah tekanan waktu bisa saja melihat keadaan dengan sudut pandang berbeda. Dalam situasi tergesa, beberapa detik dapat terasa jauh lebih lama. Sementara dari sisi petugas SPBU, prosedur yang mereka anggap sudah berjalan mungkin dipahami secara berbeda oleh pengguna layanan.
Dan ketika dua persepsi itu bertemu di ruang media sosial, video bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.
Pihak SPBU juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru melabeli semua kendaraan yang mengantre sebagai pelangsir BBM subsidi. Sebab dalam praktiknya, tidak semua kendaraan yang berada di lokasi memiliki tujuan yang sama.
Pada akhirnya, peristiwa ini mungkin bukan soal siapa yang paling benar dan siapa yang keliru. Sebab kedua pihak tampaknya berdiri pada kepentingan yang serupa: pelayanan publik yang berjalan tanpa hambatan.
Yang satu sedang menjalankan tugas kemanusiaan menjemput pasien. Yang lain mengaku menjalankan prosedur pelayanan yang selama ini telah berlaku.
Baca Juga :Â Tindaklanjuti Rapat Koordinasi, Wali Kota Tinjau SPBU dan Pastikan Stok BBM
Namun kejadian ini memperlihatkan satu hal yang semakin sering muncul di era digital potongan video bisa membentuk kesimpulan jauh sebelum keseluruhan cerita selesai didengar.
Dan ketika itu terjadi, yang paling dibutuhkan kadang bukan sekadar klarifikasi, melainkan jeda. Agar publik tidak tergesa memutuskan sesuatu hanya dari potongan peristiwa yang belum sepenuhnya utuh. [Red]














Discussion about this post