Kaltengtoday.com, Sampit – Sebuah video berdurasi singkat kembali memperlihatkan bagaimana media sosial bekerja dengan caranya sendiri: cepat, emosional, dan sering kali melompat lebih jauh daripada penjelasan yang menyusul kemudian.
Kali ini yang menjadi perhatian publik adalah rekaman seorang sopir ambulans yang mengeluhkan kesulitan mengisi BBM subsidi di SPBU Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Video itu beredar luas di sosial media. Narasinya sederhana namun kuat sebuah ambulans, kendaraan yang identik dengan situasi darurat, disebut mengalami hambatan saat hendak mengisi bahan bakar untuk menjemput pasien ke Sampit.
Baca Juga : Meski Sudah Berusaha Diminimalisir, Stok BBM di Bartim Masih Belum Kembali Normal Sepenuhnya
Dalam situasi seperti itu, publik mudah tersentuh. Sebab ambulans bukan sekadar kendaraan. Di dalam persepsi masyarakat, ambulans hampir selalu dikaitkan dengan soal waktu, keselamatan, dan nyawa.
Peristiwa itu disebut terjadi pada Jumat pagi, 15 Mei 2026 sekitar pukul 06.00 WIB. Dalam video yang beredar, sopir ambulans yang diketahui bernama Ruspandi menyampaikan kekhawatirannya karena kondisi solar kendaraan hampir habis, sementara ia memiliki tugas yang menurutnya tidak bisa ditunda.
Ia menyampaikan satu hal yang sebenarnya terdengar masuk akal bagi banyak orang kendaraan layanan darurat semestinya memperoleh prioritas. Bukan hanya ambulans, tetapi juga mobil pemadam kebakaran maupun kendaraan patroli dalam kondisi tertentu.
Di ruang publik digital, potongan informasi seperti itu kerap cukup untuk membentuk kesimpulan. Terlebih ketika narasi yang muncul menyentuh pelayanan publik. Respons masyarakat pun bergerak cepat, bahkan sebelum keseluruhan cerita selesai dipaparkan.
Namun seperti banyak peristiwa lain, persoalan di lapangan sering kali tidak sesederhana potongan video berdurasi beberapa detik.
Pihak SPBU Samuda kemudian memberikan penjelasan. Pengawas SPBU, Hasbi, menyebut bahwa kebijakan prioritas bagi kendaraan darurat bukan sesuatu yang baru diterapkan.
“Dari dahulu kami sudah berkomitmen bahwa ambulans dan mobil pemadam kebakaran tidak perlu ikut antre. Jika datang untuk mengisi BBM, kendaraan tersebut dapat langsung masuk dan akan segera kami layani,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026).
Keterangan itu menghadirkan sudut pandang berbeda. Menurut Hasbi, berdasarkan rekaman CCTV, ambulans yang dimaksud justru sudah berada di posisi terdepan dan siap dilayani petugas.
“Ada rekaman CCTV yang memperlihatkan ambulans sudah berada di depan antrean. Namun kendaraan tersebut justru pergi. Yang kami sesalkan adalah munculnya opini yang seolah-olah SPBU tidak memberikan prioritas,” katanya.
Di tengah perbedaan keterangan yang berkembang, perhatian juga datang dari DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur. Ketua Komisi II DPRD Kotim, Akhyannoor, merespons persoalan tersebut dengan langkah yang lebih memilih pemeriksaan langsung di lapangan dibanding terburu-buru mengambil kesimpulan.
“Kita sidak hari Senin jam 08.00 aja biar jelas ambulans dan SPBU Samuda,” ujarnya singkat.














Discussion about this post