Kalteng Today – Palangka Raya, – Sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kalteng saat ini melakukan penutupan akses keluar masuk kedalam perkebunan mereka guna menghindari agar ribuan pekerja mereka yang berada didalam kebun tidak terpapar virus corona.
Sementara untuk pemenuhan semua kebutuhan karyawan, suplay untuk sementara dilakukan oleh perusahaan itu.
Teguh Patriawan, Direktur Utama PT. Nusantara Sawit Persada, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, mengatakan, penutupan akses keluar masuk kedalam perkebunan ini sudah dilakukan pihaknya sejak virus asal negeri tirai bambu itu mulai menyerang Indonesia.
“Kita sudah melakukan penutupan total akses keluar masuk kebun (lockdown) sekitar 3 bulan lalu, “katanya, saat dihubungi dari Palangka Raya, Rabu (24/6).
Penutupan ini kata dia dilakukan semata-mata untuk melindungi karyawannya yang jumlahnya ribuan itu tidak terpapar virus corona. Karena bila ada satu saja pekerjanya yang terpapar corona bukan tak mungkin nantinya akan cepat menyebar.
Selain itu kata dia dalam hal bekerja, di perkebunan kelapa sawit itu tidak bergerombol seperti halnya usaha lain tapi dilakukan perorangan, misalnya untuk pekerja pemetik buah antara satu dan lainnya jaraknya minimal 10 meter juga untuk pengangkutan juga sama.
“Jadi di perusahaan perkebunan itu social distancing dan juga physical distancing memang sudah diterapkan dengan sendirinya,”katanya.
Ia menyebutkan, saat ini untuk memenuhi kebutuhan semua karyawannya mulai sandang hingga lainnya sementara disiapkan oleh perusahaan dengan menggunakan sistem koperasi yang juga dikelola oleh pegawai.
“Ini termasuk bila ada karyawan hendak mengirim atau menyimpan uang, kita bekerjasama dengan salah satu bank pemerintah yang ditempatkan di kebun,”katanya.
Baca Juga : Polsek Jaya Karya Sosialisasi Pencegahan Karhutla
Teguh menampik bila dikatakan perusahaan perkebunan akan melakukan PHK seperti halnya bidang usaha lain yang terdampak corona.
Menurut dia perkebunan kelapa sawit itu adalah kegiatan yang tidak bisa berhenti karena setiap hari pohon sawit itu berbuah dan harus dipetik maksimal dua hari sekali, belum lagi pengangkutan ke pabrik hingga pengolahannya, semua membutuhkan tenaga kerja.
“Jadi kita tak mungkin melakukan PHK di perkebunan kelapa sawit,”tegasnya.
Saat ini yang sangat berpengaruh bagi sektor perkebunan yakni adanya fluktuasi harga yang kadang turun dan naik tergantung supply dan demand,”karena itu kita butuh proteksi dari pemerintah agar kegiatan ini tetap berjalan dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak orang,”ujarnya. [Red]














Discussion about this post