Kaltengtoday.com, Sampit – Field trip ke PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Region 3 Pundu, menjadi kesempatan bagi peserta (pekebun sawit dan enam ASN dinas terkait) dari Kabupaten Barito Utara untuk melihat langsung praktik budidaya sawit sekaligus menggali pengetahuan yang dapat diterapkan di kebun masyarakat.
Kegiatan ini merupakan rangkaian Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
171 peserta mempelajari pengelolaan kebun secara utuh, mulai dari pembibitan (nursery), tanaman belum menghasilkan (TBM), replanting, hingga tanaman menghasilkan (TM). Materi pelatihan di kelas kemudian dibandingkan dengan praktik nyata di lapangan.
Baca Juga : Jejak Sawit di Ujung Peta, Warga Adat Dayak Desak ATR/BPN Bongkar Tabir Empat HGU
Region Head 3 Pundu PT BGA, Lavin Dwi Saputra, mengatakan field trip menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara perusahaan, lembaga pelatihan, dan pekebun.
“Perjalanan Bapak Ibu dari Palangka ke sini bukanlah perjalanan yang sia-sia. Ini adalah perjalanan ilmu. Kita sama-sama belajar, kami sharing, kemudian kami juga menerima feedback dari para petani,” katanya, Kamis (13/8/2026).
Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah pengelolaan TM 1. Lavin menyampaikan BGA memproyeksikan produktivitas mencapai 24 ton TBS per hektare pada usia tiga tahun.
“TM 1 itu proyeksi kami bisa yield-nya 24 ton per hektare usia tiga tahun,” ungkapnya.
Proyeksi tersebut mendorong peserta menggali faktor pendukung produktivitas, mulai dari kualitas bahan tanam, pemeliharaan, pemupukan hingga tata kelola kebun.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi menjelaskan, BGA dipilih karena memiliki rangkaian pembelajaran yang relatif lengkap.
“BGA itu kebun yang komplit. Kebun yang komplit dan tim jajarannya juga selalu siap memberikan yang terbaik untuk mendapatkan ilmu yang lebih,” ujarnya.
Menurut Idum, field trip bukan sekadar melihat kebun perusahaan, tetapi mempelajari praktik budidaya skala besar dan memilih hal-hal yang relevan untuk diterapkan pekebun.
“Hari ini kita studi banding untuk melihat skala besar, skala makro, apa saja yang sudah dilakukan oleh kebun dan bagaimana supaya peserta ini bisa membawa ilmu itu untuk diterapkan di kebunnya masing-masing,” terangnya.
Lavin menilai sinergi industri, lembaga pendidikan atau pelatihan, dan pekebun swadaya penting bagi keberlanjutan industri sawit.
Baca Juga : Saat Negara Takluk pada Agunan Bank : 13.779 Hektare Sawit Best Agro Lolos dari Sitaan Satgas PKH
“Ketiga unsur ini kalau bersinergi dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada jika berjalan sendiri-sendiri,” tuturnya.
Bagi pekebun Barito Utara, pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa produktivitas merupakan hasil dari rangkaian tata kelola, mulai dari bahan tanam, pembibitan, pemeliharaan TBM, replanting, pemupukan hingga TM.
Setelah kembali ke daerah, pengetahuan dari BGA diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman field trip, tetapi menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki praktik budidaya di kebun masing-masing.
Dengan demikian, praktik terbaik perkebunan skala besar dapat menjadi referensi yang disesuaikan dengan kondisi kebun masyarakat.[Red]














Discussion about this post