Kaltengtoday.com, Sampit – Gelombang tekanan terhadap KONI dan pemerintah daerah terus membesar. Setelah ultimatum 3×24 jam dilayangkan organisasi kepemudaan, kini suara keras juga datang dari kalangan mahasiswa.
Ketua BEM STIE Sampit periode 2024–2026, Andriyanto, menegaskan bahwa ketidakpastian terkait keikutsertaan Kotawaringin Timur dalam Porprov Kalimantan Tengah tidak boleh berujung pada pengorbanan para atlet.
“Ketidakpastian ini jangan sampai menjadi korban bagi para atlet. Mereka sudah berlatih bertahun-tahun, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi untuk bisa membawa nama baik daerah,” tegasnya, Jum’at 3 April 2026.
Atlet Mulai Pergi, Sistem Dipertanyakan
Fenomena mulai berpindahnya atlet ke daerah lain kini bukan lagi isu liar, melainkan kenyataan di lapangan.
Menurut Andriyanto, kondisi ini adalah konsekuensi langsung dari minimnya kepastian yang diberikan.
“Sangat disayangkan jika karena persoalan administrasi dan minimnya kepastian, atlet justru memilih pindah ke daerah lain,” ujarnya.
Baca Juga : Atlet Mulai Tinggalkan Daerah, OKP Datangi KONI Kotim Desak Kepastian Porprov
Situasi ini, kata dia, tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa. Ini adalah tanda bahwa ada yang tidak beres dalam pengelolaan olahraga daerah.
Bukan Sekadar Atlet, Tapi Simbol Daerah
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dampak dari kondisi ini jauh lebih besar dari sekadar kehilangan atlet.
“Ini bukan hanya soal kehilangan atlet, tetapi juga kehilangan potensi prestasi dan simbol kebanggaan daerah,” katanya.
Sebagai daerah dengan status juara umum, Kotawaringin Timur kini berada di titik rawan. Jika atlet-atlet potensial terus hengkang, maka yang hilang bukan hanya peluang medali, tetapi juga identitas daerah sebagai kekuatan olahraga di Kalimantan Tengah.
“Kalau atlet-atlet potensial mulai hengkang, maka yang hilang bukan hanya medali, tapi juga marwah Kotawaringin Timur sebagai daerah juara umum,” lanjutnya.
Alarm Serius: Daerah Lain Bisa “Panen Atlet”














Discussion about this post