Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Kultur masyarakat Dayak Lawangan di Kabupaten Barito Timur, mungkin masih belum banyak diangkat ataupun dieksplorasi seperti sub-sub Dayak lainnya. Apalagi secara angka, banyak penjaga budaya sub etnik ini yang sudah uzur bahkan tiada. Dan generasi mudanya, tidak sebanyak atau seintens para generasi pendahulunya.
Atas fenomena inilah, salah satu pegiat muda pada seni tari asal Bartim, Tirta Nopa Tarani, merasakan kegelisahan yang mengusik instingnya sebagai seniman. Di luar pulau, boleh jadi banyak job ataupun ruang yang memberikan kesempatan untuknya berkarya. Namun seperti lazimnya sebuah ironi, di kandang sendiri, justru berkesan sunyi.
Baca Juga : Masyarakat Kapuas Hulu Adakan Festival Seni Dan Budaya Dayak
“Tiba-tiba juga, saya merasa tertarik untuk mengembangkan tari kontemporer di daerah sendiri. Berangkat dari pengalaman di Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya, di mana kita biasa berkecimpung di tari kontemporer, modern maupun tradisional berbagai daerah, saya ingin mencoba mengeksplorasi seni tari kita. Menurut saya, ada banyak cara untuk mengenalkan suatu tradisi atau identitas budaya. Dan ini adalah salah satu bentuk kita memperjuangkan budaya Lawangan,” papar sarjana seni jurusan tari dari sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta tersebut, tadi (Rabu, 11/3/2025) saat ngobrol dengan kaltengtoday.com.
Dari beberapa agenda yang disusunnya, sekaligus sebagai tahapan realisasi keinginannya, Tirta sudah mulai melakukan perekrutan pebakat-pebakat baru di Bartim. Khususnya, dimulai dari Kecamatan Dusun Tengah dulu. Bahkan untuk anak-anak usia pra sekolah pun, ia membuka kursus balet. Dan ke depan, ia berencana mengakomodir para talent yang dibinanya dalam sebuah event, antara Juli hingga Agustus 2026.
“Memang saya perlu sponsor untuk kegiatan, karena mustahil tanpa adanya dana yang memadai atau mendukung. Tapi bukan berarti kita harus stagnan menunggu dana datang. Ya berjuanglah. Saya yakin masih ada orang-orang yang peduli pada keberlangsungan kesenian kita. Kesenian Dayak, khususnya Lawangan.,” sambung Tirta.
Lebih jauh ia juga menjelaskan kenapa dia membuat dalam format menjadi kontemporer. Itu karena supaya lebih bisa menjangkau ke segmen yang lebih luas. Utamanya anak-anak muda Lawangan, yang menurutnya sekarang tidak mempunyai keterikatan emosi sekental generasi dulu. [Red]














Discussion about this post