Kaltengtoday.com, Palangka Raya – Anggapan sebagian masyarakat terhadap perbaikan infrastruktur jalan di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) hanya dikebut saat mendekati hari raya keagamaan, ditepis oleh Anggota Komisi V DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalteng, Muhammad Syauqie.
Menurutnya, pemeliharaan jalan dilakukan secara berkesinambungan, namun pemerintah harus menerapkan skala prioritas akibat keterbatasan anggaran.
Hal tersebut disampaikannya usai kegiatan buka bersama di Kantor Dinas Perhubungan Kalteng Rabu (4/3/26).
Baca Juga : Sudarsono: Kebijakan ODOL Harus Diimbangi dengan Solusi untuk Truk Kecil
Syauqie merespons langsung pertanyaan awak media terkait fenomena jalanan yang seolah dibiarkan rusak pada hari biasa dan baru mendapat penanganan saat arus mudik di depan mata.
“Nggak, hampir semuanya itu menjadi perhatian. Mungkin terkesan tidak diawasi, tidak diurusi. Sebenarnya diawasi, diurusi. Hanya menjadi skala prioritas,” tegas politisi Fraksi PAN tersebut.
Syauqie menjelaskan bahwa keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun APBD di tingkat provinsi dan kabupaten membuat perbaikan jalan tidak bisa dieksekusi secara serentak di semua ruas.
Terkait maraknya pengerjaan jalan di bulan Ramadan, ia menyebut langkah itu adalah bentuk antisipasi untuk memastikan kondisi jalan yang sudah ada siap dilalui oleh volume kendaraan pemudik yang melonjak.
Pihaknya juga telah memberikan target kepada mitra kerja terkait agar seluruh perbaikan jalan berlubang harus rampung maksimal pada H-7 Lebaran.
“Bulan puasa ini untuk menuju angkutan arus mudik, kita memastikan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya. Apabila ada kerusakan lalu kita tingkatkan perbaikan-perbaikannya. Semuanya kita perbaiki dan semuanya kita awasi. Masyarakat juga harus memaklumi (soal anggaran),” tambahnya.
Lebih jauh, Syauqie justru menyoroti faktor utama yang mempercepat kerusakan jalan di Kalteng. Menurutnya, kerusakan jalan bukan semata-mata karena kualitas pekerjaan, melainkan akibat tingginya intensitas kendaraan angkutan berat, terutama truk dengan muatan dan dimensi berlebih atau Over Dimension Overload (ODOL).
Baca Juga : Tertibkan Pengemudi Odol
Oleh karena itu, ia meminta masyarakat luas, termasuk awak media, untuk ikut proaktif mengawasi aktivitas angkutan berat tersebut karena dampaknya langsung merugikan pengguna jalan umum.
“Tingkat kerusakan ini yang kita minimalisir. Kalian juga harus jeli. Apabila ada angkutan berat, kalian masyarakat juga ikut andil (mengawasi). Karena merekalah yang mempercepat tingkat kerusakan jalan, ODOL, angkutan-angkutan berat itu,” tutupnya. [Red]














Discussion about this post