Kaltengtoday.com, Sampit – Ketua DPRD Kotim, Rimbun mendesak Pemerintah Kabupaten Kotim untuk segera mempercepat perbaikan jalan rusak di sejumlah kecamatan. Desakan ini muncul setelah Komisi IV DPRD Kotim merilis data bahwa terdapat 37 titik jalan rusak berat yang menghambat konektivitas antar desa dan mengganggu aktivitas ekonomi warga.
“Kalau jalan rusak, ekonomi desa lumpuh. Hasil panen tidak bisa keluar, anak-anak sulit ke sekolah, dan akses kesehatan terganggu. Kami minta Dinas PUPR segera prioritaskan titik-titik kritis,” tegas Rimbun, saat ditemui di ruang rapat utama DPRD, Kamis (9/10/2025).
Baca Juga : Anggota DPRD Dorong Percepatan Perbaikan Jalan Antar Kecamatan di Kotim
Ia menambahkan bahwa kerusakan jalan tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga memperbesar risiko kecelakaan lalu lintas dan keterisolasian desa.
“Di Kecamatan Telaga Antang dan Tualan Hulu, warga harus menempuh jalan berlumpur sejauh 12 kilometer untuk menjangkau fasilitas kesehatan. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Juliansyah.
Sementara itu, ia juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap proyek peningkatan jalan yang sering kali tidak sesuai spesifikasi teknis.
“Kami minta agar pengawasan lapangan diperketat. Jangan sampai jalan baru rusak dalam hitungan bulan. Ini pemborosan anggaran,” tegas Rudianur.
Data Infrastruktur Jalan Rusak di Kotim:
– 37 titik jalan rusak berat tersebar di 9 kecamatan.
– 12 desa terisolasi saat musim hujan karena akses putus.
– 5 jembatan penghubung mengalami kerusakan struktural.
– 3 proyek peningkatan jalan tahun 2024 dinilai gagal fungsi oleh Komisi IV DPRD.
Terpisah Ketua Komisi IV DPRD Kotim, Syahbana, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan inspeksi lapangan dan akan menyerahkan laporan resmi kepada Bupati Kotim dalam waktu dekat.
“Kami sudah turun ke lapangan. Ada jalan yang dibangun 2024 tapi sudah ambles. Ini harus jadi perhatian serius,” ujar Syahbana.
Baca Juga : DPRD Dorong Percepatan Perbaikan Jalan Pelajar
DPRD Kotim juga meminta agar perencanaan pembangunan jalan ke depan berbasis data geoteknik dan melibatkan masyarakat lokal dalam proses pengawasan.
“Jangan hanya bangun, tapi tidak tahan cuaca. Kita butuh jalan yang kokoh dan berkelanjutan,” tutupnya. [Red]














Discussion about this post