Kaltengtoday.com, Sampit – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur mendorong percepatan dan perluasan penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) hingga ke tingkat desa. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi I DPRD Kotim, M. Abadi, yang menilai bahwa digitalisasi pelayanan publik masih terpusat di kota dan belum menyentuh wilayah pedalaman.
Baca Juga : DPRD Kotim Minta Evaluasi SPBE Desa: Jangan Sekadar Aplikasi, Pastikan Manfaat Nyata untuk Warga
“SPBE bukan hanya soal aplikasi. Ini soal akses dan keadilan pelayanan. Kalau warga desa masih harus antre berjam-jam hanya untuk surat domisili, maka digitalisasi belum berhasil,” tegas M. Abadi saat rapat kerja bersama Dinas Kominfo Kotim.
Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan SPBE sebagai bagian dari reformasi birokrasi. Ia menekankan bahwa pelayanan publik harus cepat, transparan, dan bisa diakses dari mana saja.
“Kalau kita bicara efisiensi, maka SPBE adalah jawabannya. Tapi jangan hanya di kantor bupati. Desa juga harus merasakan manfaatnya,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).
Abadi menyoroti pentingnya pelatihan SDM aparatur desa agar mampu mengoperasikan sistem digital secara mandiri.
“Jangan sampai sistemnya canggih, tapi petugasnya bingung. Kita minta ada pelatihan terpadu dan pendampingan teknis,” katanya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menambahkan bahwa digitalisasi juga harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur jaringan internet di desa-desa blank spot.
Baca Juga : Nilai Indeks SPBE Kota Palangka Raya Alami Kenaikan Setiap Tahun
“SPBE tidak akan jalan kalau sinyal saja tidak ada. Kami minta Kominfo prioritaskan desa yang belum terjangkau jaringan,” tegasnya.
Fakta SPBE di Kotim:
– 80% layanan publik kabupaten sudah terintegrasi SPBE.
– Hanya 22 dari 168 desa yang memiliki akses layanan digital dasar.
– 46 desa masih masuk kategori blank spot jaringan internet.
– 70% aparatur desa belum mengikuti pelatihan SPBE.
“Digitalisasi bukan tren, tapi kebutuhan. Kalau kita serius, pelayanan publik bisa lebih cepat, murah, dan transparan,” tutup M. Abadi. [Red]














Discussion about this post