Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Setelah sempat berminggu-minggu tak turun hujan disertai udara yang sangat menyengat, dua atau tiga hari belakangan ini, Kabupaten Barito Timur diguyur hujan lebat, yang curahnya bisa dikatakan merata.
Hal itu ternyata berdampak pada ikan-ikan di kolam peliharaan, di mana perubahan suhu udara, membuat mereka mati secara bergantian berselang hari.
“Terutama nila dan mas. Sepertinya mereka rentan terhadap kondisi air dan cuaca yang berubah drastis,” komentar Syelindra, warga Desa Rodok, Kecamatan Dusun Tengah, yang mengaku banyak ikan nila merahnya mati bergiliran selama tiga hari ini. Menurutnya, malah tak sedikit yang sudah sebesar telapak tangan.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Meningkat, BPBD Kota Palangka Raya Imbau Masyarakat Agar Waspada
Sama dengan Syelindra, Karlius, warga Kecamatan Dusun Timur pun mengaku demikian. Banyak ikan nila peliharaannya di kolam plastik yang ditemui terapung pagi harinya. “Padahal sebelumnya mereka nampak baik-baik saja,” akunya.
Ternyata, setelah ditelusuri dari berbagai sumber, ikan-ikan budidaya seperti nila, mas, gurami (kaloi) dan lele, memang sensitif terhadap perubahan udara yang drastis. Peristiwa di Waduk Cengklik, Boyolali, Jawa Tengah, beberapa waktu yang lalu, menunjukkan indikasi tersebut. Di mana perubahan cuaca yang ekstrim menyebabkan kematian massal pada ikan nila, terutama kalau perubahan itu, terjadi sekonyong-konyong a dan tidak ada waktu bagi ikan untuk beradaptasi.
Dari laman klopakindonesia.com, didapat informasi, bahwa ikan pada dasarnya merupakan hewan berdarah dingin (ektotermik), di mana suhu tubuh mereka mengikuti suhu lingkungan, terutama suhu air. Saat suhu air turun drastis, metabolisme ikan melambat. Hal ini berdampak pada aktivitas harian seperti makan, berenang, hingga pertahanan terhadap penyakit.
Baca Juga : Yuas Elko Ikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025 dan Pembahasan Antisipasi Cuaca Ekstrem
“Untuk ikan nila, suhu ideal pada air adalah antara 25-30 derajat Celcius. Jika suhu di bawah 20 0 C, maka nilai akan mengalami stress, yang diikuti dengan turunnya nafsu makan, pasif dan rentan penyakit seperti aeromonas. Dan jika suhu turun ekstrim di bawah 16 O C, akan mengakibatkan kematian massal,” demikian terang laman tersebut.
Tentu saja, ini harus dijadikan catatan bagi para pembudidaya ikan. Baik ikan yang ada di kolam terpal/plastik, maupun di kolam semen ataupun tanah. Sementara masih banyak, pembudidaya pemula, yang masih belum terlalu banyak mengetahui seluk beluk pemeliharaan ikan. Namun dari beberapa kasus, biasanya akan menjadi pelajaran berharga. [Red]














Discussion about this post