Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Pembudidayaan pisang, secara perlahan mulai dilirik sebagian warga Kabupaten Barito Timur. Di samping pemeliharaan yang mudah, harga jualnya yang lumayan tinggi, membuat mereka akhirnya memilih pisang sebagai komoditas pertanian yang membawa keuntungan.
“Secara umum, dalam 80 hari kita sudah bisa panen, Pak. Karena begitu tumbuh jantung pisang, bisa kita jadikan sebagai barometer suksesnya pohon pisang kita,” ucap Suyadi, salah satu penanam pisang di wilayah Kecamatan Dusun Tengah saat bercerita, tadi, Selasa, (28/1/2025).
Baca Juga : Budidaya Pisang di Bartim Masih Menjanjikan
Suyadi mengaku, saat ini ia lebih fokus menanam pisang kepok (atau yang dalam bahasa setempat lebih akrab disebut “manurun”). Apalagi kebun karetnya sudah tak mulai menghasilkan, dengan luasan tak sampai satu hektar. Secara matematis, pisang lebih berprospek cerah.
“Untuk pisang kepok, bisa dipanen setelah 12 -13 bulan. Ciri pohon yang bisa dipanen, kalau satu tandan, pisangnya sudah besar-besar dan dalam satu tandan itu isinya ada 10-15 sisir,” imbuhnya.
Baca Juga :Anggota DPRD Bartim Dukung Budidaya Pisang dan Padi
Tak hanya mereka yang petani total, bahkan ada PNS yang sukses berbudidaya pisang manurun alias kepok ini. Salah satunya adalah Suwignyo, warga Kelurahan Ampah Kota, yang sejak tahun 2006an sudah kerap ‘mengekspor’ panennya ke luar Bartim.
Apalagi banyak produk cemilan UMKM yang saat ini menggunakan pisang kepok sebagai bahan baku Antara lain dipakai untuk keripik, kue basah seperti pisang keju, dan lain-lain. Jelas, prospeknya di pasar tak bisa dianggap remeh [Red]














Discussion about this post