Harga karet sangat tergantung pada pertumbuhan negara pengimpor, negara pengekspor karet paling dominan yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand. Kebutuhan karet untuk industri ban merupakan kebutuhan sekunder. Sebelumnya eskpor karet mencapai 600 ton pertahun
kaltengtoday.com – Menurunnya harga karet diKalteng ternyata diikuti dengan menurunya produktiftas. Masyarakat ternyata saat ini mulai beralih dari berkebun karet yang merupakan usaha tahunan mereka ke usaha budidaya tanaman sawit.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Perkebuanan kalteng rawing rambang, Selasa (19/11) di Palangkaraya.
“Bahwa harga komoditi karet di pasar nasional memang turun, komoditi tergantung pada pertumbuhan ekonomi negara, belum lagi perang dagang antara amerika dan tiongkok, kalau pertumbuhan ekonomi menurun, maka impor karet juga menurun.” Kata Rawing.
Dijelaskan, bahwa karet sangat tergantung pada pertumbuhan negara pengimpor, negara pengekspor karet paling dominan yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand. Kebutuhan karet untuk industri ban merupakan kebutuhan sekunder. Sebelumnya eskpor karet mencapai 600 ton pertahun, ujarnya.
Dari Data Dinas Perkebunanan Kalteng, jumlah pabrik pengolah hasil karet tahun 2019 sejumlah 5 unit dengan kapasitas 240.000 ton/tahun dan baru terpakai sejumlah 48.400 ton/tahun. Berdasarkan luas arealnya, luas kebun karet di kalteng semakin tahun semakin menurun pada tahun 2016 luasnya mencapai 451.062 Ha sedangkan pada tahun 2019 jumlahnya menurun menjadi 443.080 Ha atau turun 1,77% pertahunnya. Sedangkan untuk produksi, pada tahun 2016 produksi karet mencapai 145.981 ton kemudian pada tahun 2019 jumlah meningkat menjadi 164.585 ton atau naik 12,74% pertahunnya.
Kony-KT














Discussion about this post