Kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Meski dengan budget yang tak segemilang pada tahun-tahun sebelumnya, Festival Jari Kanang Kalalawah (Jajaka) Kabupaten Barito Timur 2023, tetap terselenggara juga. Karena bagaimanapun, event seni dan budaya ini telah menjadi agenda tahunan, yang merupakan promosi wisata kultural tepat untuk mengangkat citra Barito Timur.
Beberapa sanggar tari pun menyatakan kesiapannya untuk memeriahkan festival. Walaupun dengan prepare atau persiapan yang dirasa cukup mepet. Yaitu sekitar 7 hari saja.
Baca juga :Â Festival Budaya Jajaka 2023 Kabupaten Bartim Digelar Mei 2023
“Sanggar Komandan tampil di hari pertama. Kita tetap ikutlah, arena komitmen kita pada seni budaya. Dan sekarang saya sibuk di sini, karena sebagai ASN, punya tanggung jawab moral untuk menyukseskan agenda ini,” tutur Firdaus, pimpinan sanggar tari Komunitas Dayak Maanyan (Komandan) Barito Timur.
Lelaki berperawakan subur yang juga merupakan abdi negara di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Bartim tersebut, ditemui tadi (Kamis, 4/05/2023) sedang sibuk mengerahkan timnya mendekor panggung. Dengan totalitas, seperti biasanya.
Hal serupa dikemukakan Udin Fahrian, penggerak Sanggar Betang Mandala Wisata (BMW). Lelaki yang juga bekerja sehari-hari sebagai ASN di lingkungan Setda Bartim tersebut, mengaku agak kelabakan pula menyiapkan pementasan sanggarnya.
“Tadinya kami kira tidak ikut sih.
Eh, ternyata diminta. Jadi kita langsung mempersiapkan segalanya. Mendadak kan?” tuturnya melalui sambungan telepon, seraya menerangkan bahwa konsep tarian yang sedang dikoreografi olehnya merupakan bentuk kreasi dari Tari Dadas.
Namun Udin menyatakan tetap mengupayakan penampilan terbaik,.meski untuk ini, tak ada kompensasi apapun “Kita paham kondisi. Yang penting bagaimana kita, para pembina sanggar tari di Bartim ini, bersama-sama memeriahkan event seni budaya kita,” tuturnya kemudian.
Baca juga :Â Apresiasi Festival Pentas Seni Palangka Raya 2022
Yoyok, seorang warga masyarakat dan aktivis kepemudaan, menyatakan sangat mengapresiasi semangat dan kerjasama para penggerak sanggar tari. Ia berharap, para pemangku kebijakan dapat mengapresiasi kerja keras mereka ini dengan selayaknya.
“Setidaknya, berikan plakat penghargaan walau hanya dengan selembar kertas piagam. Memang bukan dengan nominal uang, namun itu adalah bentuk pemanusiaan serta penghargaan pada mereka, yang telah memeras energi, otak, rasa dan karsa,” tutur lelaki yang juga aktif di organisasi sosial keagamaan itu. [Red]














Discussion about this post