kaltengtoday.com, Tamiang Layang – Masih belum membaiknya harga karet, membuat para pegawai harian lepas (PHL) yang bisa dikatakan tinggal menghitung waktu bakal diberhentikan secara massal oleh Pemerintah Kabupaten Barito Timur, mengaku belum melirik usaha dari perkebunan karet.
“Tidak sebanding, Mas. Harga yang ada sekarang, masih tidak manusiawi. Hanya Rp7.000 – Rp7.500 per kilogram. Kalau kita dapat 15 Kg sehari, ya lumayan dapat Rp112 ribuan. Tapi kan tidak tiap hari. Belum lagi faktor cuaca. Dalam pandangan orang secara umum, juga beda antara kerja di kantor dengan di kebun,” ucap Anto, salah seorang honorer di Pemkab Bartim, yang mengaku belum punya pandangan, apa yang akan dijadikannya sebagai sandaran hidup bulan depan, Rabu sore (4/1/2023).
Baca Juga : Â Petani Karet di Wilayah Dapil III Seruyan Keluhkan Ketidakstabilan Harga
Anto adalah sebuah potret yang mewakili ratusan PHL yang sebenarnya belum siap melepas status, berikut pemasukan tiap bulannya. Mereka, kebanyakan masih berfikir mencari alternatif pekerjaan yang cocok.
Tapi menyadap karet sebagai sebuah pekerjaan masyarakat secara mayoritas di Bartim, tidak menjadi minat bahkan sebersit pikiran sekalipun di benak mereka. Dan seperti kata Anto : ” Kecuali, kalau terpaksa..”
Padahal, meminjam kalimat yang pernah dilontarkan Bupati era sebelumnya, H Zain Alkim, karet terbukti telah mencetak banyak pegawai bahkan pejabat di Bartim selama sekian generasi.
Baca Juga : Â Saatnya Kebun Tak Hanya Didominasi Karet
“Tapi sepertinya pandangan orang terhadap usaha dari kebun karet sudah berubah. Seiring perkembangan zaman. Ya tidak tahu kalau nanti harga karet membaik lagi, bisa jadi minat orang akan kembali,” ujar Ariantho S Muler, warga Kelurahan Ampah Kota, yang kesehariannya merupakan Wakil Ketua 1 DPRD Bartim, dan mengaku disekolahkan dari usaha menyadap karet orangtuanya dulu. Meskipun, ayahnya waktu itu juga seorang PNS. [Red]














Discussion about this post